Sabtu, 13 Oktober 2007

Konversi Minyak Tanah..eh Satuan

Ada banyak variasi satuan. Misalnya untuk berat ada kilogram dan ada pound. Biar bisa diubah-ubah satuan nya itu, tapi tetep aja ribet..
Makanya diharapkan semua Negara itu mulai menggunakan system internasional.Tetapi ada aja Negara yang agak bandel, dan yang paling bandel nih ya adalah Amerika, mereka masih banyak yang pake satuan gak resmi..tapi mereka belakangan ini dah mulai denger-dengeran kok heehee....

Apa aja sih satuan-satuan yang ada di muka bumi ini? Berikut daftarnya:

Satuan Massa

Menurut Sistem International (SI) satuan massa itu diberi awalan yang berbeda-beda. Misalnya 1 decigram berarti 10-1 gram atau 1/10 gram dan 1 milligram sama dengan 1/1000 gram.




Walaupun nih, sudah ada aturannya untuk memberi awalan satuan massa ini tapi khusus untuk microgram ada yang make awalan yang agak beda yaitu dengan symbol mcg. Oh ya? Kenapa kok sok beda gitu? Hehe..bukannya sok beda gitu, tapi tahun 2004 yang lalu Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) mengusulkan penulisan microgram gak usah pake mg tapi mcg aja supaya gak salah baca. Biasalah merekakan orang kesehatan jadi kalo dosisnya salah jadi berabe tuh.. udahlah kalo dari 1mg diganti 1mcg paling sembuhnya agak lama tapi kalo seharusnya 1mcg dijadikan 1mg kan bisa overdosis? Lha wong 1mg itu 1000 kalinya 1mcg. Hiiii..ngeri deh! Lagian mereka juga seh..Tulisannya terkenal jelek-jelek, biasa..dokter-dokter kan gityu...

Sebenernya masih ada juga sih satuan Inggris yang masih dipake oleh mereka, tapi sekarang merekapun sedang dalam proses menghilangkan kebiasaan buruk tersebut. Hehe..
Contohnya untuk satuan Inggris tersebut 1kg = 0,06852 slug yang sama juga dengan 2,205 pound (lb).

Satuan Panjang

Kayaknya satuan panjang hampir sama dengan satuan massa. Awalannya semua sama persis..Cuma akhirannya musti beda dong. Ntar kalo sama dikira mencontek! Yups..ekor yang digunakan yaitu meter. Misalnya decimeter, centimeter dan sebagainya.
Kata meter itu sendiri katanya seh diambil dari bahasa Mesir metron yang berarti ukuran. Dalam bahasa Perancis disebut mètre dan dalam bahasa Inggris metre. Kata metre itu sendiri mulai tercatat pemakaiannya di Inggris tahun 1797.

Selain itu ada satuan non-SI yang sering dipake. Contohnya nehhh
1 metre ≈ 10-4 mil
1 metre ≈ 39,37 inchi
1 metre ≈ 1010 Ångström

Satuan Waktu

Satuan waktu itu adalah satuan yang unik coz dia hanya pake awalan kalo dia lebih kecil dari 1 second. Misalnya 1 millisecond dan tidak umum dipake 1 gigasecond. Walaupun kalo dipake itu, ilmuwan akan ngerti juga. Tapi orang awam? No way...hey..hey...by the way skyway is on the bus way! Nah, kalo nyatain satuan waktu yang lebih besar dari 1 second biasanya dipake menit, jam, hari, tahun dan sebagainya.

Perlu diketahui...(hehe..padahal saya tahu pembaca dah tahu!)
1 tahun=365,25 hari
Kok ada komanya? Kenapa mesti 365,25? Ya iyalah sebab memang setaon segitu hari. Kalo 730,5 hari itu namanya dua tahun! Hehe..bukan gitu maksudnya kita semua kan tahu kalo setaon itu 365 hari. Tapi kalo pas taon kabisat, setaonnya jadi 366 hari. Dan karena kabisat 4 tahun sekali, maka 1 hari yang ganjil itu dibagi rata oleh 4 tahun masing-masing dapat ¼ atau 0,25 dan jadilah satu tahun itu punya 365,25 hari. Adil kan?
1 hari=24 jam
Kenapa mesti 24? Lha..kan dulu dah diceritain kalo Ptolemy itu membagi sehari semalem jadi 24 bagian dan setiap bagian itu namanya satu jam.
1 jam= 60 menit
Kenapa 60 gak 70? Yah pembagian ini dilakukan oleh orang Babilonia, pake system sexagesimal. Wah...udahlah!!! kalo gak ngerti liat lagi di bagian standard!!! Capek aku...
1 menit=60 detik.
Awasss jangan tanya lagi kenapa!

Jadi
1 tahun = 365,25 hari = 365,25x24 jam = 365,25x24x60 menit =365,25x24x60x60 detik.
1 hari =24 jam = 24x60 menit =24x60x60 detik.

Hitung sendiri yach?!!!

Konversi satuan

Mungkin anda sering mendengar berita-berita di televisi tentang konversi minyak tanah ke gas LPG. Nah, ternyata itu gak ada hubungannya dengan meteri berikut! Hehe...
Ada sich hubungannya tapi dikiiiit gitu. Yaitu namanya konversi yang artinya sama yaitu pengubahan.
Konversi satuan berarti pengubahan satuan tapi dengan maksud ngubah satuannya doing..gak ngubah nilai sebenernya dari yang dibilang-bilang itu. Misalnya 1 meter bisa dibilang 100 cm. Satuannya memang dah beda, tapi dua hal itu masih tetap sama.
Bisa saja sich jadi beda, tapi itu berarti salah ngerjakan konversinya hehehe....

Eh, konversi satuan itu cukup vital lho dalam fisika. Dulu katanya pernah ada kecelakaan pesawat antariksa hanya karena perhitungan-perhitungan yang dilakukan salah satuan. Hiii.. ngeri dech. Tapi kalo kita gak sempat ngitung yang gituan, salah satuan bisa menyebabkan kita dapat merah waktu ujian dan bukan itu saja, ternyata walaupun kita dah belajar keras sehari semalem kadang kadang kita kebentur sama soal yang pake satuan tertentu dan kita gak bisa ngonversikannya. Nah penting kan satuan itu?

Tapi tau gak? Ternyata konversi satuan itu gampang banget lho.... hm yang pernah belajar konversi satuan dulu coba bandingkan bagaimana pelajaran kamu dengan yang ini. Mudah yang mana?

Konversi level I
Konversi Level I artinya konversi biasa misalnya 1 km itu berapa meter.

Contoh:
23hg=...cg
- Tulis 23 hg = .... cg
- Perhatikan angka yang bersesuaian
- Buat tanda bagi pada ruas kiri dan tulis satuan ruas kanan pada bagian atas dan nilai ruas kiri pada bagian bawah















Semua pindah ke atas, pangkat min jadi plus (kalo plus jadi min ya!)
- Hasil: 23 hg=23x104 cg. Gampang kan?

Iya, gampang sih! Cuma kalo kita gak hapal nilai nilainya itu gimana? Ya dihapalin dong ya.. kalo mau cara halal kayaknya harus hapal. Tinggal cara hapalnya itu aja.. banyak kok cara menghapal. Misalnya dengan menambah-nambah pangkatnya dengan angka 3. kecuali untuk yang dekat-dekat yang gak pake awalan. Lihat sendiri aja deh!

Level II
Nah yang di level II ini dah pake pangkat. Berapapun pangkatnya, caranya sama.

Contoh:
23 hg^2=....cg^2
- Tulis 23 hg^2 = .... cg^2
- Perhatikan angka yang bersesuaian
- Tulis ulang 23 di ruas kanan, buat tanda bagi pada ruas kiri dan tulis satuan ruas kanan pada bagian atas dan nilai ruas kiri pada bagian bawah kemudian semua itu dikurung dan diberi pangkat yang sama dengan pangkat satuannya.




- Hitung dengan pembagian biasa
Jangan lupa sesudah itu dipangkatkan ya?
- Hasil: 23 hg^2=23x10^8 cg^2. Gampang kan?

Nah kalo ruas kiri dan kanan pangkatnya tidak sama gimana? Wa itu berarti salah soal coy... kalo pangkatnya gak sama berarti tandanya bukan sama dengan dan kalo dah gitu diisi berapa saja benar kok. Hehe...sekalian ngerjain gurunya!



Level III
Ini level terakhir. Jadi semangat ya?

Contoh:
36 km^2/jam= ... m^2/s
- Kerjakan satu satu seperti cara diatas:
- Tulis 36 km^2/jam= ... m^2/s
- Tulis ulang 36 di ruas kanan dan tulis ulang hasil perhitungan diatas ditempatnya masing-masing


- Nah kemudian bagi biasa dan tereeeengg
- Ternyata 36 km^2/jam= 10.000 m^2/s

Easy-easy man!





Jumat, 12 Oktober 2007

Satu..satu.. aku belajar Satuan, dua..dua..Maksudnya Standard Satuan

Kemanapun kita pergi, kalo kita sempat ketemu orang yang ngukur-ngukur panjang sesuatu, biasanya mereka ngukurnya pake mistar. Pernah gak mikir: “Kok pake mistar?” Kenapa gak pake benda yang laen aja? Ya...terserah benda apa kek yang pokok bukan mistar. Walaupun ada she beberapa orang yang ngukur pake benda laen tapi kalo ada mistar rasanya mereka cenderung milih mistar deh. Kita yang dari lahir juga diukur udah pake mistar biasanya gak tahu ceritanya. Dan untuk keperluan sok tau aja, aku pernah Tanya sama seorang professor. Ikuti laporan perjalananku berikut ini!
“Selamat sore Prop”
“Hai din, ngapain lo”
“Konsultasi Prop”
“Ooh mari-mari!.. Maaa... tolong bikinin minuman satu neh buat si Udin!”
Emang propesor fisika itu kalo ada yang konsultasi sama mereka biasanya semangat sekali. Entah karena mereka itu baik hati atau karena kejadian gini jarang-jarang ya?
“Mau nanya apa din?”
“Prop saya mau nanya kenapa sih orang ngukur itu mesti pake mistar?”
“Lha mau pake apa din?”
Pembaca sekalian.. aku harus jawab gimana dooong!!
“Hehehe..din, itu semua ada sejarahnya kok”
“Oooh”
“Yang mau kamu tanyakan apanya?”
“Ya sejarahnyalah prop..” Propessor ini gimana sih?
“Oke sejarahnya gini..dengerin ya” Ya ialah!

“Suatu hari ada tiga orang pemuda bernama Uso, Ujang dan Umar”. Hm dalam hati aku gondok..kalo ada yang keempat pasti Udin neh namanya. “ Mereka berinisiatif mau membuat lapangan olahraga baru dan kemudian langsung menggarisnya dengan ukuran 100 jengkalnya si Uso. Setelah garis dibuat, mereka baru menyadari kalo bentuk lapangan belum dirancang”. He? Mana ada sih cerita yang kayak gitu? Ya ada..ini buktinya.Gak masuk akal? Yah namanya juga cerita. Kejadian nyata aja ada yang gak masuk akal. Masuk akal atau enggak kata dosen fisikaku hanya masalah waktu. Sekarang gak masuk akal mungkin tahun depan dah masuk akal. Nah ceritanya dilanjutin! “Rancang-merancang lapangan ternyata membutuhkan waktu satu tahun dan setelah satu tahun, proyek lapangan kembali dilanjutkan. Dibuatlah garis disisi yang berlainan dengan garis yang pertama. Panjang garis itu juga menurut rancangan juga sama yaitu 100 jengkal. Supaya gak salah ukur Uso tetap dipercaya sebagai tukang jengkali lapangan. Dan..sembilan delapan, sembilan sembilan, seratus heh.. akhirnya Usopun berhasil mengukur sekaligus menggaris lapangan itu. Setelah diperhatikan, kok gak sama panjangnya garis pertama dan garis kedua? Ah Ujang yang ketua proyek mulai bingung. Setelah usaha keras cari mencari ternyata sebabnya ditemukan: Selama satu tahun perancangan, Uso sempat terserang penyakit kusta dan jempolnya kini tinggal setengah.” Hah? Prop kalo bikin cerita yang masuk akal doong!!
“Beneran tuh Prop?”
“Aku sendiri juga gak tahu. Tapi kata orang-orang tua yang penting itu hikmah ceritanya”
“Hikmahnya apa prop?”
“Yang dipake ngukur itu gak boleh gampang berubah”.
Hehehehe...
“Cerita ini masih ada lanjutannya lho”
“Iya prop? Gimana lanjutannya?”
“Setelah itu Ujang kebingungan sebab sulit mencari ganti ukuran yaitu jengkal Uso. Di seluruh kampung sekitar lapangan itu, tidak ada orang yang jengkalnya sama besar dengan jengkal Uso. Dan akhirnya iapun menulis hikmah yang kedua: Kalo mau ngukur-ngukur, yang dipake ngukur itu usahakan bisa dicari penggantinya dengan mudah. Akhirnya diputuskan untuk menggantikan ukuran-ukuran jengkal dengan sepotong bambu kuning. Setelah lapangan selesai dan didaftarkan untuk digunakan pada Olimpiade ternyata lapangan ini tidak diterima sebab ukurannya gak dimengerti orang Barat dan Negara lain. Yach kecian deh mereka.. Akhirnya pada akhir hidupnya Ujang mencatat hikmah yang ketiga: Kalo bisa, ukuran yang dipakai itu diterima secara Internasional”.
“Wah ceritanya bagus prop” kataku nyesel
“Hehe..iya aku karang sendiri!” Kata Propesor tanpa berdosa..
“Hah? Yang bener prop?”
“Iya, masak dari tadi kamu gak nyadar kalo ceritanya terlalu dibuat-buat?”
Hua.....huaa...... Lagian ngapain aku Tanya ini ke dia?

Menurut sejarah yang pernah aku baca seh, ternyata orang-orang dulu itu juga teliti ngukurnya. Pengukuran teliti sudah dilakukan oleh orang-orang Mesir, Mesopotamia,lembah Indus (Masih inget pelajaran sejarahka?) dan kemungkinan juga orang Elam (sekarang Iran) pada tahun 300-400 sebelum Masehi. Yang lebih sangar nich orang-orang Lembah Indus (2600 SM) sudah bisa melakukan pengukuran yang teliti tentang panjang, massa dan waktu. Dari catatan sejarah orang-orang Mesir, Babilonia dan dari Alkitab ditemukan fakta bahwa pada zaman dahulu mereka menggunakan ukuran-ukuran panjang berupa lengan jengkal dan lain sebagainya. Sementara waktu diukur pake benda-benda yang menurut mereka bersifat surgawi seperti bulan, matahari dan sebagainya. Sekalipun sebagian dari kita masih pake matahari sebagai pengukur hari, tapi pada dasarnya kita tidak lagi menggunakan hal itu. Malu-maluin aja ya?
Oh ya lihat gambar berikut. Ini menggambarkan ukuran-ukuran yang mereka gunakan pada waktu itu!







Ngomong-ngomong untuk menentukan ukuran-ukuran yang diterima secara internasional itu gimana ya? Bagaimana kita tahu ukuran ini akan diterima Cina misalnya? Yah itu sih mesti ada rapatnya dong ya? Dan menurut buku yang aku baca sih.. rapat itu sudah pernah diadain 22 kali dan yang ke 23 akan diadakan tahun 2007 ini.

Ngapain aja mereka ya?
Rapat mereka bernama Conférence générale des poids et mesures - CGPM (ini bahasa perancis jadi agak sulit lafalnya...ribet banget! Le France gitu loh..)

Tahun 1889 mereka sepakat kalau 1 kg itu adalah berat (sebenernya massa) dari International Prototype Kilogram (IPK). Sementara usulan standar panjang (1m) masih diragukan

Pertemuan kedua tahun 1897 tidak menghasilkan apa-apa. Halah..menghabiskan biaya adja



Brosur undangan rapat yang pertama


Pertemuan ketiga tahun 1901 (Soekarno aja baru lahir) menghasilkan keputusan bahwa 1 liter itu volume dari 1 kg air (Pernah tahu kalo air 1 liter itu beratnya 1 kilogram? Mungkin belom kali ya.. kampungan!!!!)

Udah ya.. masih ada 20 kali rapat seteah itu dan aku dah pusiiiiiiiiiiing mikirinnya! Kalau mau tahu cari aja sendiri.. di Internet juga banyak.

Tapi ngapain sih mereka kok repot-repot ngadain rapat, membuang-buang APBN, APBD dan pajak rakyat Cuma untuk masalah yang gituan? Setelah aku tanyakan professorku (andalan) aku langsung dijitak! Bletak!
“Lho prop aku kok dijitak” kataku yang masih klemun-klemun..
“Ini penting sekali din” (Masih inget tokoh yang aku perankan Udin kan?)
“Apa pentingnya prop?” Tanyaku pura-pura bego padahal memang
“Bayangin kalo gak ada standard. Maka seluruh dunia kacau balau. Mesan tivi 14 inci dari Jepang eh.. datangnya 17 inci. Gimana hayo?”
“Seneng dong pak dapetyang lebih gede”
Propessornya bingung...
“Lha kalo dapet yang lebih kecil gimana?””Gak enak dong Prop”
“Makanya!!”
“Kok bisa gitu Prop?”
“Lha kamu dari tadi gak nyambung? Walah...maksudnya itu kalau 1 incinya kita dengan jepang beda kan semua orang jadi kesulitan. Iya toh?”
“Ooo iya juga ya prop”
“Masih ada lagi neh!”
“He..ada lagi Prop?”
“Iya dong. Coba bayangin kalo yang kita katakana 1 kg sekarang diubah. Maka satuan liter juga harus diubah, juga gaya karena gaya = massa x percepatan, juga momentum, massa x kecepatan, juga impuls, juga...”
“Stop..stop prop..stop!”
Akhirnya dengan sedikit basa-basi, aku dapat meloloskan diri dari sang propessor

Kalo diawal pelajaran Fisika, biasanya kita akan pelajari 3 macam satuan standard yaitu untuk massa, untuk panjang dan untuk waktu. Kenapa yang lainnya gak dipelajari? Kayaknya sih sebab yang lainnya itu gak terlalu awam buat orang yang baru belajar fisika. Ntar kalo dikasikan sekalian tambah gak ngerti... daripada hal begituan terjadi lebih baik 3 aja cukup Lagian 3 itu angka ajaib. Mau mulai.. yuk.. satu..dua...tiga!!!

Standard untuk Massa

Yang dikatain massa sama orang-orang fisika itu ternyata adalah ukuran seberapa sih “berat” sesuatu itu. Karena gak cukup cuma dibilang berat/ringan, maka mereka gunakan yang namanya massa. Kalo sudah pake massa, biasanya mereka lanjutkan dengan angka-angka yang terkait. Sebenernya sih ada beda antara massa dan berat buat orang fisika.Tapi ntar aja deh kita cari tau apa bedanya....

Nah, apa sih standardnya 1 kilogram itu? Yang menjadi patokannya itu apa? Ternyata patokannya itu IPK yang disimpan di Museum Berat dan Ukuran Internasional di Sèvres Perancis.

Gambar diatas adalah penggambaran IPK (International Prototype Kilogram) dengan menggunakan computer.

Dulu waktu tanggal 7 April 1795 (dah lama ya), gram pertamakali diperkenalkan di Perancis. Katanya 1 gram itu berat air yang volumenya 1/100 meter kubik pada temperature saat es mulai meleleh. Karena alasan tidak pratis (ternyata mereka juga gak seneng yang ribet-ribet ya?) akhirnya standarnya dibuat pake logam. Tapi 1 gram itu kekecilan bo... makanya standard yang mereka buat itu 1 kilogram (1000 gram). Mungkin itu alasan kenapa sih kilogram jadi satu-satunya standard yang pake awalan KILO.

Sebenernya, IPK itu sendiri agak diragukan karena masanya berubah-berubah apalagi waktu sebelum dan sesudah dicuci. Sebenernya ya gak besar-besar juga sih perubahannya..Cuma beberapa milligram. Tapi yang begitu-begitu kalo dalam ilmu pengetahuan ternyata gak boleh. Kenapa? Katanya sih..bisa buat pengukuran jadi gak akurat dan sebagainya..dan sebagainya..
Makanya mereka buat proyek-proyek baru yang tidak mendasarkan standard pada benda-benda duniawi (cheile kok gitu?)..bukan gitu...maksudnya pada benda-benda yang gampang berubah. Proyek itu antara lain melalui pendekatan atomic dengan menggunakan atom Carbon C12. Juga ada pendekatan-pendekatan secara elektronis.. Hm..gimana lagi itu ya?

Standard Panjang

Tapi kemudian timbul masalah. 1 meter itu seberapa sih? Masalah ini kemudan dipecahkan dengan membuat patokan atau bahasa kerennya standard. Tanggal 30 Maret 1791 Akademi Ilmu Alam Perancis mengusulkan 1 meter itu sebagai jarak antara katulistiwa dan kutub utara yang lewat Paris dibagi sepuluh juta dan oleh The French National Assembly hal itu disetujui. Mengapa dari katulistiwa ke kutub utara? (aku sendiri gak tahu tapi yang jelas kalau dari kutub utara ke kutub selatan dibagi 20 juta entar ngukurnya kejauhan kali ya?) dan mengapa pula harus lewat kota Paris? Kota Paris adalah kota terindah di seluruh dunia! Kota mode paling artistik. Bayangkan aja kalau fisikawan disuruh ngukur dari katulistiwa ke kutub utara lewat hutan-hutan kan gak ada hiburan? Makanya mereka lewatkan di Paris biar sambil bisa liat-liat cewek Perancis hehe... Berhubung ngukur jarak kutub utara ke katulistiwa sangat jauh dan setengah mati ngukurnya (sekalipun sudah cuci mata lewat Paris), makanya standard ini gak lagi dipakai. Kemudian katanya digunakan batang meter standard. Awalnya sih dari kayu (tahun 1795) kemudian tanggal 10 Desember 1799 dibuat dari platina biar lebih mengkilat.. ya bukan masalah itulah!..tapi supaya lebih stabil. Gak dimakan bubuk..hehe.. ngaco lagi!


Batang Meter Standard



Tapi berhubung ilmu pengetahuan sudah makin maju dan barangkali mereka dah bosan pakai meter standard maka pada tanggal 20 Oktober 1960 CGPM(rapat orang-orang gak jelas tadi) ke 20 memutuskan bahwa 1 meter itu setara dengan 1.650.763,73 kali panjang gelombang yang dipancarkan electron Kripton-86 yang loncat dari 5d5 ke 2p10. Ngerti? Gak? Sama dong.. hehe..


Standard Waktu

Waktu juga dapat dikatakan besaran yang mempunyai satuan yang unik. Standard untuk waktu dikatakan sebagai second atau detik. Untuk waktu yang lebih kecil dari 1 detik digunakan awalan seperti biasa contohnya millisecond artinya seperseribu detik. Nanosecond artinya sepermilyardetik. Tapi untuk yang lebih besar tidak pake awalan pada umumnya. Misalnya gak ada yang bilang sekilodetik atau sehektodetik. Yang ada satu menit (60 detik), sejam (3600 detik), satu hari, satu tahun dan sebagainya. Mau merubah supaya seragam dengan yang lain? Silahkan aja tapi aku jamin gak ada yang mau deh.. bayangin aja kalo kita bilang sama pacar kita.. “Sayang, entar aku jemput 3600 detik lagi ya?” Whoa...kan lucu tuh!

Tapi gimana sih sejarahnya sampai kita gunakan jam, detik dan sebagainya ini? Let’s find out..

Tiga abad sebelum Masehi, orang babilonia membagi hari menjadi 1/60, kemudian ada waktu yang 1/60 dari itu, 1/60 nya dan seterusnya dan seterusnya. Metode ini disebut pembagian secara sexagesimal. Kira-kira 2 abad SM Orang orang Mesir membagi malam dan siang menjadi 12 bagian. Nah karena siang dan malam itu lamanya gak sama sepanjang tahun, maka jam-jam mereka itu tergantung musim hehe...bayangkan kalo musim dingin jam kamu jalannya cepet. Eh pas musim panas jalannya lambat...hehe gak gitu maksudnya. Maksudnya karena pada suatu musim tertentu siangnya lama maka satu jamnya bagi mereka juga ikut-ikutan lama karena satu siang harus 12 jam. Wah kok ribet dan gak konsisten gitu? Akhirnya Hipparchus (150 SM) membagi waktu sehari menjadi 24 jam demikian juga Ptolemy.

Para astronomer pada tahun 1200-an kemudian membagi jam sexagesimal menjadi pars minuta prima (kemudian menjadi minute dan orang Indonesia menyebutnya menit), pars minuta secunda (disebut second dan diikuti orang Indonesia sebagai sekon atau detik) dan seterusnya. Sebenernya masih ada pembagian 1/60nya lagi. Oleh orang Polandia disebut tercja. Tetapi tidak umum di Indonesia dan dunia Internasionalpun lebih suka memakai awalan milli,mikro dsb.

Kemudian disadari bahwa lamanya satu hari itu tidak selalu sama sehingga lamanya satu jam juga perlu diklarifikasi..maksudnya dicek ulang gitu loh... Dan dari pada repot-repot memakai patokan bumi dan matahari yang tidak pasti, lebih baik pakai patokan atom. Eh, btw jam di hp kita pakai patokan pa ya? Ya.. pakai patokan apa aja terserah dialah.. yang penting gak jauh jauh amat bedanya dari standard. Kan gak mungkin juga kita marahi pacar yang telat hanya 0,1 millisecond..hehe...

Ukur Mengukur

Besaran Fisika
Fisika itu biasanya terkait dengan ukur-mengukur. Tapi perlu diinget kalo gak semua urusan yang ukur-mengukur itu terkait ama yang namanya Fisika. Contohnya walaupun tukang jahit itu sering ukur-mengukur mulai dari lingkar leher sampai selangkangan, tapi beliau-beliau ini bukan fisikawan dan mungkin gak pernah belajar fisika seumur-umur dan tentu saja ilmu ini bukan bagian ilmu fisika.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih orang fisika itu suka dengan yang namanya ukur-mengukur? Atau emang gak ada pekerjaan laen? Setahuku hitungan mereka tu banyak deh jadi kayaknya gak mungkin mereka kurang kerjaan. Jadi mungkin saja emang ukur-mengukur itu perlu.
Ukur mengukur ternyata memang perlu dalam dunia fisika itu sebab mereka tuh hanya bisa berkomunikasi dengan baik kalo apa yang mereka maksud diucapkan dalam angka-angka (Hiii!).

Jangan salah paham dulu ya? Maksudnya tuh begini.. Mmm gimana yach? Susah diungkapkan dengan kata-kata deh. Langsung aja aku kasi contoh ya?

Seorang fisikawan bertemu dengan temannya yang fisikawati dan bilang “ Wei Painem, aku ketemu ular besar”.
Painem berkerut gak ngerti
“Seberapa besar?”
Kemudian sang fisikawan tadi menjawab: “Diameter 50 cm dan panjang 9 meter”
“Ooooh.. Mbok ya ngomong gitu to jo! Paijo iki gimana seh”
Dan akhirnya Paijo dan Painem saling memahami. Hehehe...
Sebenernya mereka goblok apa pintar seh? Kita juga udah ngerti kalo Paijo itu ketemu ular yang besar kan? Tapi jangan boong deh karena sebenernya kita juga.....pura-pura ngerti! Kita gak akan ngerti dengan PASTI segala sesuatu sebelum dinyatakan dengan eksak. Dan sesuatu yang sering dinyatakan dengan angka dan diukur itu sama mereka-mereka disebut sebagai BESARAN. Saya masih juga bingung kenapa tidak disebut KECILAN? Hehe...

Besaran Segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dalam angka-angka.

Ada berapa macam hal (eh besaran) sih yang diukur dalam ilmu Fisika itu? Waktu aku tanyakan ini sama orang fisika, mereka sendiri banyak gak gak tahu pasti sebab katanya she.. banyaaaaaaaaaaak banget. Hm.. apa gak ribet pak? Aku tanya lagi sama dia dan dia bilang ya ribetlah! Makanya diadakan pengelompokkan dan mencari besaran-besaran yang jadi dasar dari semuanya.
“oooooo gitu toh! Apa udah ada yang buat?”
“Iya sudah kok”
“Kapan pak”
“Peratamanya tahun 1889”
“Hua...dah lama ya pak? Kenapa aku gak denger?”
“Heheheee....” bapaknya malah ketawa...
“Siapa yang ngadain Pak?”
“Namanya Lembaga Berat dan Ukuran Internasional”
“ooooooooo....”
Aku pun ngebayangin kalo mereka-mereka yang kerja disitu ngurkur-sana ngukur-sini. Atau kalo senggang gitu ya ngelap-ngelap penggaris sama timbangan hehe..
“Trus..trus, pengelompokkannya gimana pak?”
Kemudian bapak itu buat coretan dan dikasikan ke aku. Sumpah deh tulisannya jelek banget... Makanya gak bisa dicetak di buku ini dan saya ganti dengan gambar ini:


Intinya, besaran fisika itu kalau dilihat dari satuannya itu ada 3 macam yaitu besaran pokok, besaran turunan dan besaran tambahan. Dan berdasarkan punya atau tidaknya arah, dibagi menjadi 2 yaitu besaran vector dan besaran scalar.

Dari banyaknya besaran yang ada di ilmu fisika, ternyata ada 7 besaran yang paling mendasar. Nah, besaran ini adalah besaran yang paling pokok sehingga disebut besaran pokok. Mau daftarnya? Yups..ini dia
Nah besaran lainnya bagaimana? Katanya tadi banyak! Ia, ternyata yang lain hanya variasi atau gabungan dari besaran-besaran pokok itu. Contohnya kecepatan itu ternyata pembagian besaran Panjang oleh besaran waktu. Jadi kayak anak dari besaran pokok gitu deh! Makanya mereka ini disebut besaran turunan. Contoh lainnya banyak banget dan kita kurang kerjaan kalo menuliskan itu semua. Aku kasi contekan 3 aja ya? Ntar yang lain cari sendiri aja..Sial bin kurang beruntung, ternyata belum semua besaran bisa tercakup dalam dua kelompok diatas. Masih ada dua besaran yang ketinggalan. Soalnya mereka ini unik, kalo semua besaran itu punya satuan, mereka ini dicari cari stuannya gak ketemu-ketemu dan memang mereka gak punya. Lho kok bisa? Mari kita liat yuk...

Besaran yang pertama disebut sebagai Sudut bidang!

Sudut bidang itu didefinisikan sebagai panjang tali busur dibagi jari-jari. Kalau sudah didefinisikan berarti gak boleh ada yang protes. Seperti juga kalo misalnya kamu dinamai Paijo, kamu gak boleh protes. Suka-suka bapak dong ya? Hehe....


Tali busur dan jari-jari itu dua duanya merupakan besaran panjang dan dengan demikian satuannya dua-duanya adalah meter sehingga meter dibagi meter hasilnya 1 dan seharusnya dia gak punya satuan. Nah kalo gak punya satuan mau dikelompokkan kepada yang mana? Masak hanya dia sendiri yang gak punya satuan?
Pada dasarnya para fisikawan itu baik hati. Maka dalam rangka ulang tahunnya yang ke 17 akhirnya besaran ini diberi satuan secara cuma-cuma yaitu radian. 1 Radian nilainya hampir setara dengan 57 derajat.
Nah ternyata sudut bidang ini punya temen yang namanya sudut ruang. Supaya adil, sudut ruang ini diberi juga satuan yang kedengaran agak mirip yaitu steradian.


Masalah beri memberi satuan sudah selesai. Masalah lainnya adalah mereka dimasukkan dalam kelompok mana? Sebab mereka ini aneh bin ajaib dan lain daripada yang lain. Fisikawan pusing tujuh keliling dan capek memikirkan akan dikemanakan mereka (Capek...deh). Setelah istirahat dan pijet sama Mbok Darmi akhirnya mereka menyimpulkan “Ya udah biar mereka mendirikan kelompok sendiri aja”. Lantas namanya apa pak?. Fisikawan pusing lagi dan dia bilang “Kasi saja nama besaran tambahan deh!”. Emang boleh sembarangan gitu pak? Dia diem aja.. dan berkat dia diem, sekarang di buku-buku pelajaran fisika ada yang namanya besaran tambahan.

Mau lagi?

Kenapa sih Fisika itu menjengkelkan?

Ngomong masalah fisika emang gak akan ada habisnya dan percaya gak? Gak ada asik-asiknya! Tapi yang cukup mengherankan nih, 9 dari 10 orang Indonesia menyukai fisika. Hah? Gak percaya? Dulu aku sempat ngadain penelitian dan ternyata 9 dari 10 responden (yang jawab-jawab pertanyaan) suka dengan fisika. Masih gak percaya? Penelitian itu saya buat di suatu Jurusan Fisika perguruan tinggi hehe...Ssssttt berarti di dalam jurusan Fisika itu sendiri masih ada yang gak tertarik dengan fisika. Pertanyaannya adalah Ngapain dia disitu? Sehubungan dengan penelitian tadi pasti pembacaku yang budiman (cheile) pada mikir “itu mah gak mewakili orang seluruh Indonesia ya?” Kata dosen Statistika yang dulu sempat ngajar aku yang maniez ini...istilahnya gak resentatif tapi sama dia selalu dibilang gak representatip. Hm...bener juga! Emang sih fisika itu gak menarik. Ketika saya tanyakan kenapa fisika gak menarik, seorang temen dengan semangat 45 memberikan saya setumpuk alasan. Mau tau? Berikut beberapa alasannya:
- Fisika itu sulit. Saya dalam hati terpaksa mengakuinya...
- Identik dengan menghitung. Hu..iya lagi...
- Kalau menghitung pake kalkulator. Lagi iya..
- Kalkulator harganya mahal. Hu.. lagi-lagi iya
- Gak punya duit. Ye... itu sih urusan elo!! Lagian kalo lu pintar kayaknya gak perlu kalkulator deh...
Tapi dia gak mau kalah!! Dengan semangat 46 (dah tambah 1 semangatnya) dia tawarkan alasan lagi. Hua? Dan dia bawa teman-temen ganknya dengan misi suci buat ngeyakinin aku. Ha.... terpaksa deh aku ngacir dan sambil ngacir berpikir: Banyak amat ya yang benci sama fisika? Dan...gubrak!!! Dan kemudian sayup sayup kudengar “Hua ha ha.. kapok gak lo...”
Mulai hari itu aku bertobat dan sebagai silih atas dosaku menebar kebencian terhadap ilmu fisika, akhirnya aku masuk menjadi mahasiswa fisika. Dan percaya gak? Di dalem ternyata kacau juga... Gak percaya? Coba aja baca halaman-demi halaman berikut ini..

Teknik Dasar Snare Drum

Bagi sebagian besar yang sudah merasa menggeluti dunia snare selama bertahun-tahun, mungkin anda merasa tidak perlu lagi membaca bagian ini. Tetapi saya mengatakan pada anda, JANGAN LAKUKAN ITU!! Teknik Dasar adalah hal yang TERPENTING dalam setiap hal. Begitupun dalam bidang ini. Banyak sekali orang yang sudah pandai melakukan roll, flam dan lain-lain namun tidak bisa menghasilkan suara roll, flam yang bulat dan jernih. Mengapa? Satu-satunya jawaban adalah dia tidak mempunyai teknik dasar yang baik.

Pada bagian ini saya akan membahas 2 hal utama yakni:





Cara Memegang Stick (Grip)
Pivot Point

Cara Memegang Stick
Bagaimana cara terbaik memegang stick? Cara memegang stick sangatlah mudah. Coba lepaskan stick anda dan suruhlah adik atau siapa saja disekitar situ untuk mengambilkan stick itu dan perhatikan bagaimana caranya ia memegang stick tersebut. Kebanyakan orang akan memegang stick dengan cara yang benar bahkan jika yang memegang stick tersebut adalah anak-anak 5 tahun. Mengapa? Karena secara naluri orang akan memegang stick dengan cara terbaik dan paling nyaman bagi mereka.

Ada dua cara yang paling terkenal memagang stick yaitu:
Matched grip dan
Traditional grip
Banyak yang memperdebatkan kedua cara ini. Masing-masing menyebut cara yang satu lebih baik dari cara yang lain. Perdebatan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun dan belum juga berakhir hingga kini. Namun, saya akan memberikan pendapat pribadi mengenai hal ini setelah membahas kedua cara ini.

Matched Grip
Matched grip sangat efektif sebab kita memegang stick dengan cara yang paling nyaman dan natural.

Yang paling penting dalam matched grip adalah “fulcrum” atau “pivot point”. Kita harus memegang stick pada fulcrum.



Apa itu fulcrum?
Fulcrum adalah suatu titik yang kira-kira berjarak 1/3 bagian dari pangkal stick. Di titik itulah paling nyaman kita memegang stick. Dari titik itu, kita dapat memukulkan stick pada drum dengan hanya memberikan gerakan jari-jari kita.

Perhatikan gambar disamping. Beginilah seharusnya cara kita memegang stick. Pertama-tama stick kita jepit dengan telunjk dan ibu jari kemudian genggamlah stick sehingga seperti pada gambar berikut:



Selalu ingatlah bahwa memegang stickharus pada fulcrum agar keseimbangan stick dapat terjaga dengan baik. Dengan demikian kita dapat dengan nyaman memukulkan stick pada drum dan mengontrol stick kita. Untuk cara Matched grip, cara memegang stick pada tangan kanan sama dengan tangan kiri.

Memegang stick dengan cara Matched Grip adalah cara yang paling nyaman dan memudahkan kita untuk bermain snare. Grip yang sama juga digunakan oleh pada drummer pada band. Pada jaman dahulu, snare pada marching band dibawa dengan menggantungkan snare di sisi kiri badan sehingga permukaan snare tidak rata. Hal ini membuat matched grip kurang nyaman digunakan sebab kita harus mengangkat sikut kiri kita tinggi-tinggi. Tetapi sekarang sudah banyak snare drum yang digantungkan pada pundak sehingga permukaan snare rata dan menggunakan matched grip cukup memudahkan.

Traditional Grip
Cara memegang stick dengan traditional grip berbeda antara tangan kanan dan tangan kiri.Cara memegang stick pada tangan kanan tepat sama dengan Matched Grip, bedanya terletak pada cara memegang stick dengan tangabn kiri.
Bagaimana cara memegang stick pada tangan kiri?
Pertama-tama letakkan fulcrum tepat pada “V” antara telunjuk dan ibu jari anda.
Kemudian lingkarkan jari telunjuk dan ibu jari anda sehingga bersilangan di atas stick.
Lewatkan stick diantara jari tengah dan jari manis (Lihat gambar).

Ingatlah selalu untuk merapatkan jari anda sehingga grip anda cukup kuat untuk membuat stick tidak terpantul dalam arah yang tidak kita kehendaki dan sulit dikontrol.


Traditional grip dahulu adalah grip standard yang digunakan oleh marching band seperti yang telah saya jelaskan diatas. Walaupun sekarang ada yang sudah mulai meninggalkannya, tetapi masih banyak group marching band bahkan mereka yang professional masih menggunakan metode ini. Saya kira alasan utamanya adalah karena cara ini merupakan cara yang indah dalam memegang stick. Banyak variasi-variasi atraksi seperti back sticking yang memukau dapat dihasilkan dari grip ini. Kalau anda pernah menonton pertandingan DCI (Drum corps International) anda dapat menemukan ternyata masih banyak yang menggunakan cara ini.
Beberapa kesalahan umum:
Ibu jari diatas stick
Jika anda meletakkan ibu jari diatas stick, mungkin anda berharap dapat mengontrol stick dengan lebih baik karena anda dapat menyentuh stick pada area yang lebih besar. Tetapi cara ini kurang baik. Mengapa?

Dengan memegang stick seperti cara diatas, anda akan cenderung menggerakkan tangan secara menyamping (lihat gambar disamping kiri). Menggerakkan tangan dengan cara seperti ini akan menghasilkan besarnya sudut yang dapat anda jangkau sangat kecil sehingga membuat pukulan anda kurang keras. Cobalah bandingkan dengan apabila anda menggerakkan tangan dengan tangan tertelungkup. Hasil yang didapatkan cukup berbeda. Dan tangan anda tidak akan sakit.

Selain itu, jika anda memegang stick seperti cara diatas, anda tidak memberikan keleluasaan kepada fulcrum untuk memerankan perannya sebagai titik pivot atau titik putaran stick. Hal ini mungkin tampak sepele pada single stroke (pukulan satu kali) tetapi sangat signifikan untuk pukulan-pukulan yang membutuhkan kecepatan tinggi.

Telunjuk diatas stick
Banyak pemula yang menggunakan cara ini. Alasan utamanya adalah agar stick tidak terlucur saat kita memegangnya pada fulcrum. Namun menghindari membiasakan diri memegang stick pada fulcrum sama saja dengan menciptakan masalah baru. Dengan memegang stick dengan cara ini anda tidak mungkin akan melakukan pukulan yang cepat dan bulat. Untuk selanjutnya perhatikan teknik fingering.

Kesalahan di tangan kiri
Di tangan kiri, mungkin anda hanya menjepit stick antara ibu jari dan telunjuk, membengkokkan jari jari anda dan meletakkan stick di atas jari tengah. Cara ini relative lebih mudah dari yang seharusnya pada traditional grip. Dengan cara ini stick lebih mudah memantul. Dan kita agak kurang canggung memegang stick daripada cara traditional. Akan tetapi perhatikan bahwa seringkali kita tidak cukup kuat menjepit stick dan pada kecepatan yang tinggi stick akan tidak terkontrol dan cenderung terpantul kesana-kemari.

Pivot Point
Memukulkan stick pada snare drum pada prinsipnya adalah menjatuhkan stick pada head snare. Stick akan menempuh lintasan berupa seperempat lingkaran dengan titik putar pada suatu titik tertentu yaitu pada fulcrum, pada pergelangan tangan dan pada siku.

Titik putar pada fulcrum
Dengan menggunakan cara ini, yang paling berperan besar adalah jari sehingga teknik ini sering disebut fingering. Teknik ini memberdayakan sedikit sekali otot sehingga tidak terlalu memerlukan energi yang banyak dan cocok sekali untuk digunakan pada gerakan-gerakan yang cepat seperti roll atau pukulan berturut-turut pada tangan yang sama. Teknik ini seringkali digabungkan dengan teknik lain seperti pukulan dengan pergelangan tangan.

Titik putar pada pergelangan tangan
Cara kedua ini paling banyak digunakan. Otot-otot yang diberdayakan adalah otot-otot disekitar pergelangan tangan. Akibatnya, bunyi yang dihasilkan lebih kuat dan masih cukup efektif untuk menghasilkan bunyi yang cepat. Cara ini dapat dikombinasikan dengan teknik fingering sehingga menghasilkan bunyi yang bulat, keras dan cepat.

Titik putar pada siku
Dengan cara ini kita memukulkan stick dengan titik putar pada siku kita (lihat gambar). Usahakan untuk tidak menggabungkan gerakan ini dengan gerakan yang lain sebab bisa menghasilkan rasa sakit apabila diulang berkali-kali. Memukul dengan cara seperti ini sangat jarang dilakukan dan biasanya hanya dilakukan untuk memberikan suara yang keras seperti membunyikan accent.

Dari ketiga teknik diatas, mana yang paling sering digunakan? Jawabannya tergantung situasi. Terkadang kita melakukan semuanya sekaligus, kadang kadang hanya satu teknik saja. Yang perlu diingat sebaiknya saat kita berlatih, kita memisahkan ketiga cara diatas agar bunyi yang kita hasilkan dapat menjadi bulat dan jernih.