Kemanapun kita pergi, kalo kita sempat ketemu orang yang ngukur-ngukur panjang sesuatu, biasanya mereka ngukurnya pake mistar. Pernah gak mikir: “Kok pake mistar?” Kenapa gak pake benda yang laen aja? Ya...terserah benda apa kek yang pokok bukan mistar. Walaupun ada she beberapa orang yang ngukur pake benda laen tapi kalo ada mistar rasanya mereka cenderung milih mistar deh. Kita yang dari lahir juga diukur udah pake mistar biasanya gak tahu ceritanya. Dan untuk keperluan sok tau aja, aku pernah Tanya sama seorang professor. Ikuti laporan perjalananku berikut ini!
“Selamat sore Prop”
“Hai din, ngapain lo”
“Konsultasi Prop”
“Ooh mari-mari!.. Maaa... tolong bikinin minuman satu neh buat si Udin!”
Emang propesor fisika itu kalo ada yang konsultasi sama mereka biasanya semangat sekali. Entah karena mereka itu baik hati atau karena kejadian gini jarang-jarang ya?
“Mau nanya apa din?”
“Prop saya mau nanya kenapa sih orang ngukur itu mesti pake mistar?”
“Lha mau pake apa din?”
Pembaca sekalian.. aku harus jawab gimana dooong!!
“Hehehe..din, itu semua ada sejarahnya kok”
“Oooh”
“Yang mau kamu tanyakan apanya?”
“Ya sejarahnyalah prop..” Propessor ini gimana sih?
“Oke sejarahnya gini..dengerin ya” Ya ialah!
“Suatu hari ada tiga orang pemuda bernama Uso, Ujang dan Umar”. Hm dalam hati aku gondok..kalo ada yang keempat pasti Udin neh namanya. “ Mereka berinisiatif mau membuat lapangan olahraga baru dan kemudian langsung menggarisnya dengan ukuran 100 jengkalnya si Uso. Setelah garis dibuat, mereka baru menyadari kalo bentuk lapangan belum dirancang”. He? Mana ada sih cerita yang kayak gitu? Ya ada..ini buktinya.Gak masuk akal? Yah namanya juga cerita. Kejadian nyata aja ada yang gak masuk akal. Masuk akal atau enggak kata dosen fisikaku hanya masalah waktu. Sekarang gak masuk akal mungkin tahun depan dah masuk akal. Nah ceritanya dilanjutin! “Rancang-merancang lapangan ternyata membutuhkan waktu satu tahun dan setelah satu tahun, proyek lapangan kembali dilanjutkan. Dibuatlah garis disisi yang berlainan dengan garis yang pertama. Panjang garis itu juga menurut rancangan juga sama yaitu 100 jengkal. Supaya gak salah ukur Uso tetap dipercaya sebagai tukang jengkali lapangan. Dan..sembilan delapan, sembilan sembilan, seratus heh.. akhirnya Usopun berhasil mengukur sekaligus menggaris lapangan itu. Setelah diperhatikan, kok gak sama panjangnya garis pertama dan garis kedua? Ah Ujang yang ketua proyek mulai bingung. Setelah usaha keras cari mencari ternyata sebabnya ditemukan: Selama satu tahun perancangan, Uso sempat terserang penyakit kusta dan jempolnya kini tinggal setengah.” Hah? Prop kalo bikin cerita yang masuk akal doong!!
“Beneran tuh Prop?”
“Aku sendiri juga gak tahu. Tapi kata orang-orang tua yang penting itu hikmah ceritanya”
“Hikmahnya apa prop?”
“Yang dipake ngukur itu gak boleh gampang berubah”.
Hehehehe...
“Cerita ini masih ada lanjutannya lho”
“Iya prop? Gimana lanjutannya?”
“Setelah itu Ujang kebingungan sebab sulit mencari ganti ukuran yaitu jengkal Uso. Di seluruh kampung sekitar lapangan itu, tidak ada orang yang jengkalnya sama besar dengan jengkal Uso. Dan akhirnya iapun menulis hikmah yang kedua: Kalo mau ngukur-ngukur, yang dipake ngukur itu usahakan bisa dicari penggantinya dengan mudah. Akhirnya diputuskan untuk menggantikan ukuran-ukuran jengkal dengan sepotong bambu kuning. Setelah lapangan selesai dan didaftarkan untuk digunakan pada Olimpiade ternyata lapangan ini tidak diterima sebab ukurannya gak dimengerti orang Barat dan Negara lain. Yach kecian deh mereka.. Akhirnya pada akhir hidupnya Ujang mencatat hikmah yang ketiga: Kalo bisa, ukuran yang dipakai itu diterima secara Internasional”.
“Wah ceritanya bagus prop” kataku nyesel
“Hehe..iya aku karang sendiri!” Kata Propesor tanpa berdosa..
“Hah? Yang bener prop?”
“Iya, masak dari tadi kamu gak nyadar kalo ceritanya terlalu dibuat-buat?”
Hua.....huaa...... Lagian ngapain aku Tanya ini ke dia?
Menurut sejarah yang pernah aku baca seh, ternyata orang-orang dulu itu juga teliti ngukurnya. Pengukuran teliti sudah dilakukan oleh orang-orang Mesir, Mesopotamia,lembah Indus (Masih inget pelajaran sejarahka?) dan kemungkinan juga orang Elam (sekarang Iran) pada tahun 300-400 sebelum Masehi. Yang lebih sangar nich orang-orang Lembah Indus (2600 SM) sudah bisa melakukan pengukuran yang teliti tentang panjang, massa dan waktu. Dari catatan sejarah orang-orang Mesir, Babilonia dan dari Alkitab ditemukan fakta bahwa pada zaman dahulu mereka menggunakan ukuran-ukuran panjang berupa lengan jengkal dan lain sebagainya. Sementara waktu diukur pake benda-benda yang menurut mereka bersifat surgawi seperti bulan, matahari dan sebagainya. Sekalipun sebagian dari kita masih pake matahari sebagai pengukur hari, tapi pada dasarnya kita tidak lagi menggunakan hal itu. Malu-maluin aja ya?
Oh ya lihat gambar berikut. Ini menggambarkan ukuran-ukuran yang mereka gunakan pada waktu itu!


Brosur undangan rapat yang pertama

Gambar diatas adalah penggambaran IPK (International Prototype Kilogram) dengan menggunakan computer.
Dulu waktu tanggal 7 April 1795 (dah lama ya), gram pertamakali diperkenalkan di Perancis. Katanya 1 gram itu berat air yang volumenya 1/100 meter kubik pada temperature saat es mulai meleleh. Karena alasan tidak pratis (ternyata mereka juga gak seneng yang ribet-ribet ya?) akhirnya standarnya dibuat pake logam. Tapi 1 gram itu kekecilan bo... makanya standard yang mereka buat itu 1 kilogram (1000 gram). Mungkin itu alasan kenapa sih kilogram jadi satu-satunya standard yang pake awalan KILO.
Sebenernya, IPK itu sendiri agak diragukan karena masanya berubah-berubah apalagi waktu sebelum dan sesudah dicuci. Sebenernya ya gak besar-besar juga sih perubahannya..Cuma beberapa milligram. Tapi yang begitu-begitu kalo dalam ilmu pengetahuan ternyata gak boleh. Kenapa? Katanya sih..bisa buat pengukuran jadi gak akurat dan sebagainya..dan sebagainya..
Makanya mereka buat proyek-proyek baru yang tidak mendasarkan standard pada benda-benda duniawi (cheile kok gitu?)..bukan gitu...maksudnya pada benda-benda yang gampang berubah. Proyek itu antara lain melalui pendekatan atomic dengan menggunakan atom Carbon C12. Juga ada pendekatan-pendekatan secara elektronis.. Hm..gimana lagi itu ya?
Standard Panjang
Tapi kemudian timbul masalah. 1 meter itu seberapa sih? Masalah ini kemudan dipecahkan dengan membuat patokan atau bahasa kerennya standard. Tanggal 30 Maret 1791 Akademi Ilmu Alam Perancis mengusulkan 1 meter itu sebagai jarak antara katulistiwa dan kutub utara yang lewat Paris dibagi sepuluh juta dan oleh The French National Assembly hal itu disetujui. Mengapa dari katulistiwa ke kutub utara? (aku sendiri gak tahu tapi yang jelas kalau dari kutub utara ke kutub selatan dibagi 20 juta entar ngukurnya kejauhan kali ya?) dan mengapa pula harus lewat kota Paris? Kota Paris adalah kota terindah di seluruh dunia! Kota mode paling artistik. Bayangkan aja kalau fisikawan disuruh ngukur dari katulistiwa ke kutub utara lewat hutan-hutan kan gak ada hiburan? Makanya mereka lewatkan di Paris biar sambil bisa liat-liat cewek Perancis hehe... Berhubung ngukur jarak kutub utara ke katulistiwa sangat jauh dan setengah mati ngukurnya (sekalipun sudah cuci mata lewat Paris), makanya standard ini gak lagi dipakai. Kemudian katanya digunakan batang meter standard. Awalnya sih dari kayu (tahun 1795) kemudian tanggal 10 Desember 1799 dibuat dari platina biar lebih mengkilat.. ya bukan masalah itulah!..tapi supaya lebih stabil. Gak dimakan bubuk..hehe.. ngaco lagi!
Batang Meter Standard
Tapi berhubung ilmu pengetahuan sudah makin maju dan barangkali mereka dah bosan pakai meter standard maka pada tanggal 20 Oktober 1960 CGPM(rapat orang-orang gak jelas tadi) ke 20 memutuskan bahwa 1 meter itu setara dengan 1.650.763,73 kali panjang gelombang yang dipancarkan electron Kripton-86 yang loncat dari 5d5 ke 2p10. Ngerti? Gak? Sama dong.. hehe..
Standard Waktu
Waktu juga dapat dikatakan besaran yang mempunyai satuan yang unik. Standard untuk waktu dikatakan sebagai second atau detik. Untuk waktu yang lebih kecil dari 1 detik digunakan awalan seperti biasa contohnya millisecond artinya seperseribu detik. Nanosecond artinya sepermilyardetik. Tapi untuk yang lebih besar tidak pake awalan pada umumnya. Misalnya gak ada yang bilang sekilodetik atau sehektodetik. Yang ada satu menit (60 detik), sejam (3600 detik), satu hari, satu tahun dan sebagainya. Mau merubah supaya seragam dengan yang lain? Silahkan aja tapi aku jamin gak ada yang mau deh.. bayangin aja kalo kita bilang sama pacar kita.. “Sayang, entar aku jemput 3600 detik lagi ya?” Whoa...kan lucu tuh!
Tapi gimana sih sejarahnya sampai kita gunakan jam, detik dan sebagainya ini? Let’s find out..
Tiga abad sebelum Masehi, orang babilonia membagi hari menjadi 1/60, kemudian ada waktu yang 1/60 dari itu, 1/60 nya dan seterusnya dan seterusnya. Metode ini disebut pembagian secara sexagesimal. Kira-kira 2 abad SM Orang orang Mesir membagi malam dan siang menjadi 12 bagian. Nah karena siang dan malam itu lamanya gak sama sepanjang tahun, maka jam-jam mereka itu tergantung musim hehe...bayangkan kalo musim dingin jam kamu jalannya cepet. Eh pas musim panas jalannya lambat...hehe gak gitu maksudnya. Maksudnya karena pada suatu musim tertentu siangnya lama maka satu jamnya bagi mereka juga ikut-ikutan lama karena satu siang harus 12 jam. Wah kok ribet dan gak konsisten gitu? Akhirnya Hipparchus (150 SM) membagi waktu sehari menjadi 24 jam demikian juga Ptolemy.
Para astronomer pada tahun 1200-an kemudian membagi jam sexagesimal menjadi pars minuta prima (kemudian menjadi minute dan orang Indonesia menyebutnya menit), pars minuta secunda (disebut second dan diikuti orang Indonesia sebagai sekon atau detik) dan seterusnya. Sebenernya masih ada pembagian 1/60nya lagi. Oleh orang Polandia disebut tercja. Tetapi tidak umum di Indonesia dan dunia Internasionalpun lebih suka memakai awalan milli,mikro dsb.
Kemudian disadari bahwa lamanya satu hari itu tidak selalu sama sehingga lamanya satu jam juga perlu diklarifikasi..maksudnya dicek ulang gitu loh... Dan dari pada repot-repot memakai patokan bumi dan matahari yang tidak pasti, lebih baik pakai patokan atom. Eh, btw jam di hp kita pakai patokan pa ya? Ya.. pakai patokan apa aja terserah dialah.. yang penting gak jauh jauh amat bedanya dari standard. Kan gak mungkin juga kita marahi pacar yang telat hanya 0,1 millisecond..hehe...
“Selamat sore Prop”
“Hai din, ngapain lo”
“Konsultasi Prop”
“Ooh mari-mari!.. Maaa... tolong bikinin minuman satu neh buat si Udin!”
Emang propesor fisika itu kalo ada yang konsultasi sama mereka biasanya semangat sekali. Entah karena mereka itu baik hati atau karena kejadian gini jarang-jarang ya?
“Mau nanya apa din?”
“Prop saya mau nanya kenapa sih orang ngukur itu mesti pake mistar?”
“Lha mau pake apa din?”
Pembaca sekalian.. aku harus jawab gimana dooong!!
“Hehehe..din, itu semua ada sejarahnya kok”
“Oooh”
“Yang mau kamu tanyakan apanya?”
“Ya sejarahnyalah prop..” Propessor ini gimana sih?
“Oke sejarahnya gini..dengerin ya” Ya ialah!
“Suatu hari ada tiga orang pemuda bernama Uso, Ujang dan Umar”. Hm dalam hati aku gondok..kalo ada yang keempat pasti Udin neh namanya. “ Mereka berinisiatif mau membuat lapangan olahraga baru dan kemudian langsung menggarisnya dengan ukuran 100 jengkalnya si Uso. Setelah garis dibuat, mereka baru menyadari kalo bentuk lapangan belum dirancang”. He? Mana ada sih cerita yang kayak gitu? Ya ada..ini buktinya.Gak masuk akal? Yah namanya juga cerita. Kejadian nyata aja ada yang gak masuk akal. Masuk akal atau enggak kata dosen fisikaku hanya masalah waktu. Sekarang gak masuk akal mungkin tahun depan dah masuk akal. Nah ceritanya dilanjutin! “Rancang-merancang lapangan ternyata membutuhkan waktu satu tahun dan setelah satu tahun, proyek lapangan kembali dilanjutkan. Dibuatlah garis disisi yang berlainan dengan garis yang pertama. Panjang garis itu juga menurut rancangan juga sama yaitu 100 jengkal. Supaya gak salah ukur Uso tetap dipercaya sebagai tukang jengkali lapangan. Dan..sembilan delapan, sembilan sembilan, seratus heh.. akhirnya Usopun berhasil mengukur sekaligus menggaris lapangan itu. Setelah diperhatikan, kok gak sama panjangnya garis pertama dan garis kedua? Ah Ujang yang ketua proyek mulai bingung. Setelah usaha keras cari mencari ternyata sebabnya ditemukan: Selama satu tahun perancangan, Uso sempat terserang penyakit kusta dan jempolnya kini tinggal setengah.” Hah? Prop kalo bikin cerita yang masuk akal doong!!
“Beneran tuh Prop?”
“Aku sendiri juga gak tahu. Tapi kata orang-orang tua yang penting itu hikmah ceritanya”
“Hikmahnya apa prop?”
“Yang dipake ngukur itu gak boleh gampang berubah”.
Hehehehe...
“Cerita ini masih ada lanjutannya lho”
“Iya prop? Gimana lanjutannya?”
“Setelah itu Ujang kebingungan sebab sulit mencari ganti ukuran yaitu jengkal Uso. Di seluruh kampung sekitar lapangan itu, tidak ada orang yang jengkalnya sama besar dengan jengkal Uso. Dan akhirnya iapun menulis hikmah yang kedua: Kalo mau ngukur-ngukur, yang dipake ngukur itu usahakan bisa dicari penggantinya dengan mudah. Akhirnya diputuskan untuk menggantikan ukuran-ukuran jengkal dengan sepotong bambu kuning. Setelah lapangan selesai dan didaftarkan untuk digunakan pada Olimpiade ternyata lapangan ini tidak diterima sebab ukurannya gak dimengerti orang Barat dan Negara lain. Yach kecian deh mereka.. Akhirnya pada akhir hidupnya Ujang mencatat hikmah yang ketiga: Kalo bisa, ukuran yang dipakai itu diterima secara Internasional”.
“Wah ceritanya bagus prop” kataku nyesel
“Hehe..iya aku karang sendiri!” Kata Propesor tanpa berdosa..
“Hah? Yang bener prop?”
“Iya, masak dari tadi kamu gak nyadar kalo ceritanya terlalu dibuat-buat?”
Hua.....huaa...... Lagian ngapain aku Tanya ini ke dia?
Menurut sejarah yang pernah aku baca seh, ternyata orang-orang dulu itu juga teliti ngukurnya. Pengukuran teliti sudah dilakukan oleh orang-orang Mesir, Mesopotamia,lembah Indus (Masih inget pelajaran sejarahka?) dan kemungkinan juga orang Elam (sekarang Iran) pada tahun 300-400 sebelum Masehi. Yang lebih sangar nich orang-orang Lembah Indus (2600 SM) sudah bisa melakukan pengukuran yang teliti tentang panjang, massa dan waktu. Dari catatan sejarah orang-orang Mesir, Babilonia dan dari Alkitab ditemukan fakta bahwa pada zaman dahulu mereka menggunakan ukuran-ukuran panjang berupa lengan jengkal dan lain sebagainya. Sementara waktu diukur pake benda-benda yang menurut mereka bersifat surgawi seperti bulan, matahari dan sebagainya. Sekalipun sebagian dari kita masih pake matahari sebagai pengukur hari, tapi pada dasarnya kita tidak lagi menggunakan hal itu. Malu-maluin aja ya?
Oh ya lihat gambar berikut. Ini menggambarkan ukuran-ukuran yang mereka gunakan pada waktu itu!
Ngomong-ngomong untuk menentukan ukuran-ukuran yang diterima secara internasional itu gimana ya? Bagaimana kita tahu ukuran ini akan diterima Cina misalnya? Yah itu sih mesti ada rapatnya dong ya? Dan menurut buku yang aku baca sih.. rapat itu sudah pernah diadain 22 kali dan yang ke 23 akan diadakan tahun 2007 ini.
Ngapain aja mereka ya?
Rapat mereka bernama Conférence générale des poids et mesures - CGPM (ini bahasa perancis jadi agak sulit lafalnya...ribet banget! Le France gitu loh..)
Tahun 1889 mereka sepakat kalau 1 kg itu adalah berat (sebenernya massa) dari International Prototype Kilogram (IPK). Sementara usulan standar panjang (1m) masih diragukan
Pertemuan kedua tahun 1897 tidak menghasilkan apa-apa. Halah..menghabiskan biaya adja
Ngapain aja mereka ya?
Rapat mereka bernama Conférence générale des poids et mesures - CGPM (ini bahasa perancis jadi agak sulit lafalnya...ribet banget! Le France gitu loh..)
Tahun 1889 mereka sepakat kalau 1 kg itu adalah berat (sebenernya massa) dari International Prototype Kilogram (IPK). Sementara usulan standar panjang (1m) masih diragukan
Pertemuan kedua tahun 1897 tidak menghasilkan apa-apa. Halah..menghabiskan biaya adja

Brosur undangan rapat yang pertama
Pertemuan ketiga tahun 1901 (Soekarno aja baru lahir) menghasilkan keputusan bahwa 1 liter itu volume dari 1 kg air (Pernah tahu kalo air 1 liter itu beratnya 1 kilogram? Mungkin belom kali ya.. kampungan!!!!)
Udah ya.. masih ada 20 kali rapat seteah itu dan aku dah pusiiiiiiiiiiing mikirinnya! Kalau mau tahu cari aja sendiri.. di Internet juga banyak.
Tapi ngapain sih mereka kok repot-repot ngadain rapat, membuang-buang APBN, APBD dan pajak rakyat Cuma untuk masalah yang gituan? Setelah aku tanyakan professorku (andalan) aku langsung dijitak! Bletak!
“Lho prop aku kok dijitak” kataku yang masih klemun-klemun..
“Ini penting sekali din” (Masih inget tokoh yang aku perankan Udin kan?)
“Apa pentingnya prop?” Tanyaku pura-pura bego padahal memang
“Bayangin kalo gak ada standard. Maka seluruh dunia kacau balau. Mesan tivi 14 inci dari Jepang eh.. datangnya 17 inci. Gimana hayo?”
“Seneng dong pak dapetyang lebih gede”
Propessornya bingung...
“Lha kalo dapet yang lebih kecil gimana?””Gak enak dong Prop”
“Makanya!!”
“Kok bisa gitu Prop?”
“Lha kamu dari tadi gak nyambung? Walah...maksudnya itu kalau 1 incinya kita dengan jepang beda kan semua orang jadi kesulitan. Iya toh?”
“Ooo iya juga ya prop”
“Masih ada lagi neh!”
“He..ada lagi Prop?”
“Iya dong. Coba bayangin kalo yang kita katakana 1 kg sekarang diubah. Maka satuan liter juga harus diubah, juga gaya karena gaya = massa x percepatan, juga momentum, massa x kecepatan, juga impuls, juga...”
“Stop..stop prop..stop!”
Akhirnya dengan sedikit basa-basi, aku dapat meloloskan diri dari sang propessor
Kalo diawal pelajaran Fisika, biasanya kita akan pelajari 3 macam satuan standard yaitu untuk massa, untuk panjang dan untuk waktu. Kenapa yang lainnya gak dipelajari? Kayaknya sih sebab yang lainnya itu gak terlalu awam buat orang yang baru belajar fisika. Ntar kalo dikasikan sekalian tambah gak ngerti... daripada hal begituan terjadi lebih baik 3 aja cukup Lagian 3 itu angka ajaib. Mau mulai.. yuk.. satu..dua...tiga!!!
Standard untuk Massa
Yang dikatain massa sama orang-orang fisika itu ternyata adalah ukuran seberapa sih “berat” sesuatu itu. Karena gak cukup cuma dibilang berat/ringan, maka mereka gunakan yang namanya massa. Kalo sudah pake massa, biasanya mereka lanjutkan dengan angka-angka yang terkait. Sebenernya sih ada beda antara massa dan berat buat orang fisika.Tapi ntar aja deh kita cari tau apa bedanya....
Nah, apa sih standardnya 1 kilogram itu? Yang menjadi patokannya itu apa? Ternyata patokannya itu IPK yang disimpan di Museum Berat dan Ukuran Internasional di Sèvres Perancis.
Udah ya.. masih ada 20 kali rapat seteah itu dan aku dah pusiiiiiiiiiiing mikirinnya! Kalau mau tahu cari aja sendiri.. di Internet juga banyak.
Tapi ngapain sih mereka kok repot-repot ngadain rapat, membuang-buang APBN, APBD dan pajak rakyat Cuma untuk masalah yang gituan? Setelah aku tanyakan professorku (andalan) aku langsung dijitak! Bletak!
“Lho prop aku kok dijitak” kataku yang masih klemun-klemun..
“Ini penting sekali din” (Masih inget tokoh yang aku perankan Udin kan?)
“Apa pentingnya prop?” Tanyaku pura-pura bego padahal memang
“Bayangin kalo gak ada standard. Maka seluruh dunia kacau balau. Mesan tivi 14 inci dari Jepang eh.. datangnya 17 inci. Gimana hayo?”
“Seneng dong pak dapetyang lebih gede”
Propessornya bingung...
“Lha kalo dapet yang lebih kecil gimana?””Gak enak dong Prop”
“Makanya!!”
“Kok bisa gitu Prop?”
“Lha kamu dari tadi gak nyambung? Walah...maksudnya itu kalau 1 incinya kita dengan jepang beda kan semua orang jadi kesulitan. Iya toh?”
“Ooo iya juga ya prop”
“Masih ada lagi neh!”
“He..ada lagi Prop?”
“Iya dong. Coba bayangin kalo yang kita katakana 1 kg sekarang diubah. Maka satuan liter juga harus diubah, juga gaya karena gaya = massa x percepatan, juga momentum, massa x kecepatan, juga impuls, juga...”
“Stop..stop prop..stop!”
Akhirnya dengan sedikit basa-basi, aku dapat meloloskan diri dari sang propessor
Kalo diawal pelajaran Fisika, biasanya kita akan pelajari 3 macam satuan standard yaitu untuk massa, untuk panjang dan untuk waktu. Kenapa yang lainnya gak dipelajari? Kayaknya sih sebab yang lainnya itu gak terlalu awam buat orang yang baru belajar fisika. Ntar kalo dikasikan sekalian tambah gak ngerti... daripada hal begituan terjadi lebih baik 3 aja cukup Lagian 3 itu angka ajaib. Mau mulai.. yuk.. satu..dua...tiga!!!
Standard untuk Massa
Yang dikatain massa sama orang-orang fisika itu ternyata adalah ukuran seberapa sih “berat” sesuatu itu. Karena gak cukup cuma dibilang berat/ringan, maka mereka gunakan yang namanya massa. Kalo sudah pake massa, biasanya mereka lanjutkan dengan angka-angka yang terkait. Sebenernya sih ada beda antara massa dan berat buat orang fisika.Tapi ntar aja deh kita cari tau apa bedanya....
Nah, apa sih standardnya 1 kilogram itu? Yang menjadi patokannya itu apa? Ternyata patokannya itu IPK yang disimpan di Museum Berat dan Ukuran Internasional di Sèvres Perancis.

Gambar diatas adalah penggambaran IPK (International Prototype Kilogram) dengan menggunakan computer.
Dulu waktu tanggal 7 April 1795 (dah lama ya), gram pertamakali diperkenalkan di Perancis. Katanya 1 gram itu berat air yang volumenya 1/100 meter kubik pada temperature saat es mulai meleleh. Karena alasan tidak pratis (ternyata mereka juga gak seneng yang ribet-ribet ya?) akhirnya standarnya dibuat pake logam. Tapi 1 gram itu kekecilan bo... makanya standard yang mereka buat itu 1 kilogram (1000 gram). Mungkin itu alasan kenapa sih kilogram jadi satu-satunya standard yang pake awalan KILO.
Sebenernya, IPK itu sendiri agak diragukan karena masanya berubah-berubah apalagi waktu sebelum dan sesudah dicuci. Sebenernya ya gak besar-besar juga sih perubahannya..Cuma beberapa milligram. Tapi yang begitu-begitu kalo dalam ilmu pengetahuan ternyata gak boleh. Kenapa? Katanya sih..bisa buat pengukuran jadi gak akurat dan sebagainya..dan sebagainya..
Makanya mereka buat proyek-proyek baru yang tidak mendasarkan standard pada benda-benda duniawi (cheile kok gitu?)..bukan gitu...maksudnya pada benda-benda yang gampang berubah. Proyek itu antara lain melalui pendekatan atomic dengan menggunakan atom Carbon C12. Juga ada pendekatan-pendekatan secara elektronis.. Hm..gimana lagi itu ya?
Standard Panjang
Tapi kemudian timbul masalah. 1 meter itu seberapa sih? Masalah ini kemudan dipecahkan dengan membuat patokan atau bahasa kerennya standard. Tanggal 30 Maret 1791 Akademi Ilmu Alam Perancis mengusulkan 1 meter itu sebagai jarak antara katulistiwa dan kutub utara yang lewat Paris dibagi sepuluh juta dan oleh The French National Assembly hal itu disetujui. Mengapa dari katulistiwa ke kutub utara? (aku sendiri gak tahu tapi yang jelas kalau dari kutub utara ke kutub selatan dibagi 20 juta entar ngukurnya kejauhan kali ya?) dan mengapa pula harus lewat kota Paris? Kota Paris adalah kota terindah di seluruh dunia! Kota mode paling artistik. Bayangkan aja kalau fisikawan disuruh ngukur dari katulistiwa ke kutub utara lewat hutan-hutan kan gak ada hiburan? Makanya mereka lewatkan di Paris biar sambil bisa liat-liat cewek Perancis hehe... Berhubung ngukur jarak kutub utara ke katulistiwa sangat jauh dan setengah mati ngukurnya (sekalipun sudah cuci mata lewat Paris), makanya standard ini gak lagi dipakai. Kemudian katanya digunakan batang meter standard. Awalnya sih dari kayu (tahun 1795) kemudian tanggal 10 Desember 1799 dibuat dari platina biar lebih mengkilat.. ya bukan masalah itulah!..tapi supaya lebih stabil. Gak dimakan bubuk..hehe.. ngaco lagi!
Batang Meter Standard Tapi berhubung ilmu pengetahuan sudah makin maju dan barangkali mereka dah bosan pakai meter standard maka pada tanggal 20 Oktober 1960 CGPM(rapat orang-orang gak jelas tadi) ke 20 memutuskan bahwa 1 meter itu setara dengan 1.650.763,73 kali panjang gelombang yang dipancarkan electron Kripton-86 yang loncat dari 5d5 ke 2p10. Ngerti? Gak? Sama dong.. hehe..
Standard Waktu
Waktu juga dapat dikatakan besaran yang mempunyai satuan yang unik. Standard untuk waktu dikatakan sebagai second atau detik. Untuk waktu yang lebih kecil dari 1 detik digunakan awalan seperti biasa contohnya millisecond artinya seperseribu detik. Nanosecond artinya sepermilyardetik. Tapi untuk yang lebih besar tidak pake awalan pada umumnya. Misalnya gak ada yang bilang sekilodetik atau sehektodetik. Yang ada satu menit (60 detik), sejam (3600 detik), satu hari, satu tahun dan sebagainya. Mau merubah supaya seragam dengan yang lain? Silahkan aja tapi aku jamin gak ada yang mau deh.. bayangin aja kalo kita bilang sama pacar kita.. “Sayang, entar aku jemput 3600 detik lagi ya?” Whoa...kan lucu tuh!
Tapi gimana sih sejarahnya sampai kita gunakan jam, detik dan sebagainya ini? Let’s find out..
Tiga abad sebelum Masehi, orang babilonia membagi hari menjadi 1/60, kemudian ada waktu yang 1/60 dari itu, 1/60 nya dan seterusnya dan seterusnya. Metode ini disebut pembagian secara sexagesimal. Kira-kira 2 abad SM Orang orang Mesir membagi malam dan siang menjadi 12 bagian. Nah karena siang dan malam itu lamanya gak sama sepanjang tahun, maka jam-jam mereka itu tergantung musim hehe...bayangkan kalo musim dingin jam kamu jalannya cepet. Eh pas musim panas jalannya lambat...hehe gak gitu maksudnya. Maksudnya karena pada suatu musim tertentu siangnya lama maka satu jamnya bagi mereka juga ikut-ikutan lama karena satu siang harus 12 jam. Wah kok ribet dan gak konsisten gitu? Akhirnya Hipparchus (150 SM) membagi waktu sehari menjadi 24 jam demikian juga Ptolemy.
Para astronomer pada tahun 1200-an kemudian membagi jam sexagesimal menjadi pars minuta prima (kemudian menjadi minute dan orang Indonesia menyebutnya menit), pars minuta secunda (disebut second dan diikuti orang Indonesia sebagai sekon atau detik) dan seterusnya. Sebenernya masih ada pembagian 1/60nya lagi. Oleh orang Polandia disebut tercja. Tetapi tidak umum di Indonesia dan dunia Internasionalpun lebih suka memakai awalan milli,mikro dsb.
Kemudian disadari bahwa lamanya satu hari itu tidak selalu sama sehingga lamanya satu jam juga perlu diklarifikasi..maksudnya dicek ulang gitu loh... Dan dari pada repot-repot memakai patokan bumi dan matahari yang tidak pasti, lebih baik pakai patokan atom. Eh, btw jam di hp kita pakai patokan pa ya? Ya.. pakai patokan apa aja terserah dialah.. yang penting gak jauh jauh amat bedanya dari standard. Kan gak mungkin juga kita marahi pacar yang telat hanya 0,1 millisecond..hehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar