Fisika itu biasanya terkait dengan ukur-mengukur. Tapi perlu diinget kalo gak semua urusan yang ukur-mengukur itu terkait ama yang namanya Fisika. Contohnya walaupun tukang jahit itu sering ukur-mengukur mulai dari lingkar leher sampai selangkangan, tapi beliau-beliau ini bukan fisikawan dan mungkin gak pernah belajar fisika seumur-umur dan tentu saja ilmu ini bukan bagian ilmu fisika.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih orang fisika itu suka dengan yang namanya ukur-mengukur? Atau emang gak ada pekerjaan laen? Setahuku hitungan mereka tu banyak deh jadi kayaknya gak mungkin mereka kurang kerjaan. Jadi mungkin saja emang ukur-mengukur itu perlu.
Ukur mengukur ternyata memang perlu dalam dunia fisika itu sebab mereka tuh hanya bisa berkomunikasi dengan baik kalo apa yang mereka maksud diucapkan dalam angka-angka (Hiii!).
Jangan salah paham dulu ya? Maksudnya tuh begini.. Mmm gimana yach? Susah diungkapkan dengan kata-kata deh. Langsung aja aku kasi contoh ya?
Seorang fisikawan bertemu dengan temannya yang fisikawati dan bilang “ Wei Painem, aku ketemu ular besar”.
Painem berkerut gak ngerti
“Seberapa besar?”
Kemudian sang fisikawan tadi menjawab: “Diameter 50 cm dan panjang 9 meter”
“Ooooh.. Mbok ya ngomong gitu to jo! Paijo iki gimana seh”
Dan akhirnya Paijo dan Painem saling memahami. Hehehe...
Sebenernya mereka goblok apa pintar seh? Kita juga udah ngerti kalo Paijo itu ketemu ular yang besar kan? Tapi jangan boong deh karena sebenernya kita juga.....pura-pura ngerti! Kita gak akan ngerti dengan PASTI segala sesuatu sebelum dinyatakan dengan eksak. Dan sesuatu yang sering dinyatakan dengan angka dan diukur itu sama mereka-mereka disebut sebagai BESARAN. Saya masih juga bingung kenapa tidak disebut KECILAN? Hehe...
Besaran Segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dalam angka-angka.
Ada berapa macam hal (eh besaran) sih yang diukur dalam ilmu Fisika itu? Waktu aku tanyakan ini sama orang fisika, mereka sendiri banyak gak gak tahu pasti sebab katanya she.. banyaaaaaaaaaaak banget. Hm.. apa gak ribet pak? Aku tanya lagi sama dia dan dia bilang ya ribetlah! Makanya diadakan pengelompokkan dan mencari besaran-besaran yang jadi dasar dari semuanya.
“oooooo gitu toh! Apa udah ada yang buat?”
“Iya sudah kok”
“Kapan pak”
“Peratamanya tahun 1889”
“Hua...dah lama ya pak? Kenapa aku gak denger?”
“Heheheee....” bapaknya malah ketawa...
“Siapa yang ngadain Pak?”
“Namanya Lembaga Berat dan Ukuran Internasional”
“ooooooooo....”
Aku pun ngebayangin kalo mereka-mereka yang kerja disitu ngurkur-sana ngukur-sini. Atau kalo senggang gitu ya ngelap-ngelap penggaris sama timbangan hehe..
“Trus..trus, pengelompokkannya gimana pak?”
Kemudian bapak itu buat coretan dan dikasikan ke aku. Sumpah deh tulisannya jelek banget... Makanya gak bisa dicetak di buku ini dan saya ganti dengan gambar ini:
Dari banyaknya besaran yang ada di ilmu fisika, ternyata ada 7 besaran yang paling mendasar. Nah, besaran ini adalah besaran yang paling pokok sehingga disebut besaran pokok. Mau daftarnya? Yups..ini dia
Besaran yang pertama disebut sebagai Sudut bidang!
Sudut bidang itu didefinisikan sebagai panjang tali busur dibagi jari-jari. Kalau sudah didefinisikan berarti gak boleh ada yang protes. Seperti juga kalo misalnya kamu dinamai Paijo, kamu gak boleh protes. Suka-suka bapak dong ya? Hehe....
Tali busur dan jari-jari itu dua duanya merupakan besaran panjang dan dengan demikian satuannya dua-duanya adalah meter sehingga meter dibagi meter hasilnya 1 dan seharusnya dia gak punya satuan. Nah kalo gak punya satuan mau dikelompokkan kepada yang mana? Masak hanya dia sendiri yang gak punya satuan?
Pada dasarnya para fisikawan itu baik hati. Maka dalam rangka ulang tahunnya yang ke 17 akhirnya besaran ini diberi satuan secara cuma-cuma yaitu radian. 1 Radian nilainya hampir setara dengan 57 derajat.
Nah ternyata sudut bidang ini punya temen yang namanya sudut ruang. Supaya adil, sudut ruang ini diberi juga satuan yang kedengaran agak mirip yaitu steradian.
Masalah beri memberi satuan sudah selesai. Masalah lainnya adalah mereka dimasukkan dalam kelompok mana? Sebab mereka ini aneh bin ajaib dan lain daripada yang lain. Fisikawan pusing tujuh keliling dan capek memikirkan akan dikemanakan mereka (Capek...deh). Setelah istirahat dan pijet sama Mbok Darmi akhirnya mereka menyimpulkan “Ya udah biar mereka mendirikan kelompok sendiri aja”. Lantas namanya apa pak?. Fisikawan pusing lagi dan dia bilang “Kasi saja nama besaran tambahan deh!”. Emang boleh sembarangan gitu pak? Dia diem aja.. dan berkat dia diem, sekarang di buku-buku pelajaran fisika ada yang namanya besaran tambahan.
Mau lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar